Berbeda dengan Indonesia yang
masih menganggap tabu hiburan yang berbau dewasa, Jepang justru sebaliknya.
Siapa pun bebas mengakses film-film yang hanya layak ditonton oleh orang dewasa
tersebut, bahkan memproduksinya secara massal.
Ada beberapa Industri besar
yang memproduksi film semacam itu. Dan faktanya, para pengusaha tersebut juga
tak bisa seenaknya membuat adegan demi adegan, ada beberapa aturan dan teknik
yang harus diterapkan selama proses pengambilan gambar. Penasaran dengan apa
yang ada dibalik layar film-film Jepang? Berikut ini informasi selengkapnya.
1. Manipulasi Adegan Bercinta
Film yang memiliki alur dan
berdurasi lebih panjang tentu lebih diminati, daripada potongan-potongan video
amatiran yang langsung menampilkan adegan hubungan layaknya suami-istri tanpa
ada ceritanya, yang dijadikan tema pun beragam, mulai dari adegan di rumah,
hingga adegan pemaksaan di luar ruangan.
Tahukah Anda bahwa semua yang
terekam dalam film tersebut merupakan rekaan? Termasuk juga orang awam yang ada
dalam film tersebut yang sebenarnya adalah seorang figuran. Tak hanya itu,
suara suara yang dikeluarkan pemerannya merupakan rekaan dan dibuat-buat agar
suasanya terasa lebih menggairahkan. Dengan kata lain, apa yang Anda lihat di
sana belum tentu akan sama dengan yang terjadi di dunia nyata
2. Bisa Tahan Lama
Jangan percaya dengan
kemampuan hebat para pemeran utama film dewasa Jepang, baik pria maupun wanita
saat berada di atas ranjang. Kebanyakan film dewasa di negara ini akan
menyuguhkan pemeran utama yang bisa bertahan hingga berjam-jam saat bercinta
dengan pasangannya.
Sebenarnya itu tidak benar,
faktanya para kru film merekamnya per frame kemudian menggabungkan hingga
menjadi film utuh berdurasi panjang. Sebagian besar teknik pengambilan
gambarnya hampir sama dengan pembuatan film pada umumnya.
3. Walaupun Dilegalkan tapi
Kasus Pemerkosaan Rendah
Masyarakat Jepang sangat
menjunjung tinggi baik kedisiplinan maupun moral, sehingga walaupun industri
hiburan untuk konsumsi orang dewasa dilegalkan, kejahatan seperti pemerkosaan
jarang ditemui di Jepang. Karena orang yang nekat melakukannya selain mendapat
ancaman berupa hukuman, juga akan dianggap sebagai orang gila.
Sangat berbeda dengan
Indonesia, kasus pemerkosaannya juga sebanding dengan penyebaran film-film
hinga rekaman syur yang tersebar sembarangan di media. Bahkan jenis film dewasa
bergenre Jepang menjadi salah satu yang diminati di Indonesia
4. Juga Harus di Sensor
Jepang juga memiliki aturan
dalam membatasi industri semacam ini, salah satunya adalah diterapkannya aturan
bahwa semua gambar yang menampilkan adegan ranjang harus disensor. Sanksinya
juga tak bisa dianggap remeh, jika sampai melanggarnya yang paling berat adalah
ancaman kurungan penjara dan penutupan perusahaan.
Tapi walaupun begitu, tetap
ada saja yang berbuat curang dan nekat memproduksi film dewasa tanpa sensor.
Bisnis ilegal seperti ini biasanya dijalankan secara rahasia oleh para Yakuza.
Itulah beberapa fakta yang ada
di balik pembuatan film dewasa di Jepang. Walaupun industri film ini menjamur
di Jepang, tentu kita harus sadar bahwa menonton film dewasa juga ada aturan
dan konsekwensinya. Apalagi jika yang menonton bukanlah orang yang tepat
seperti anak dibawah umur. Bagaimanapun, bila tidak memiliki aturan dan norma
yang kuat, serta konsistensi pribadi untuk melakukannya, sebaiknya tidak
sembarangan ‘mengonsumsi’ film-film dewasa ini.
Kata Kunci :
Tidak ada komentar